Laman

Kritik & saran positif silakan di email abd.kholik99@gmail.com / abdul@akplawyer.com / info@akplawyer.com

Kamis, 29 Januari 2015

Pendidikan Untuk Diri dan Keluarga

Firman اَللّهُ Ta'ala, "Jagalah diri dan keluarga kalian dari siksa neraka" (QS. At-Tahrim, 6)

Dan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم  bersabda, "Ajarkanlah DIRI kalian dan keluarga kalian kebaikan" (HR. Al-Hakim).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib كرم الله وجـهه berkata, "Sesungguhnya seorang ayah memiliki hak atas anaknya, dan sesungguhnya seorang anak memiliki hak atas ayahnya.
Hak ayah atas anak adalah ditaati dalam segala hal, kecuali dalam maksiat kepada اَللّهُ Yang Maha Suci. Sedangkan hak anak atas ayah adalah diberi nama yg baik, diajarkan adab yg baik, dan diajarkan Al-Qur'an...!"

Hujjatul Islam, Sayyidinal Imam Al-Ghazaly رضي الله عنـه berkata dalam Al-Ihya',

"Dikatakan bahwa yg pertama terkait dengan seseorang pada hari Kiamat adalah istri dan anaknya, lalu mereka berdiri di hadapan اَللّهُ, kemudian mengatakan, 'Wahai Tuhan kami, ambillah hak kami darinya, sesungguhnya ia tidak mengajari kami apa yg tidak kami ketahui dan ia memberi kami makanan yg haram dan kami tidak mengetahuinya'. Maka اَللّهُ mengambil balasan untuk mereka darinya...!"

نَعُـــــــوْذُ بِاللّـــــــهِ مِن ذلك
أسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظيْم وأتوبُ إليہ

("Al-Manhaj As-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah As-Sadah Al Ba 'Alawi", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Sayyid Zain bin Ibrahim Bin Sumaith)

Buah Hati adalah Penenang Dunia Akhirat

Mendidik anak, baik putera maupun puteri, dan istri adalah akhlak yg sangat penting dan vital bagi seorang Muslim. Akhlak ini akan berdampak pada baiknya keluarga.

Keluarga yg baik adalah fondasi bagi masyarakat yg baik. Dan masyarakat yg baik adalah fondasi bagi negara yg baik !

Keharusan mendidik anak, yg merupakan amanah, menuntut qta untuk memberi mereka makanan fisik dan ruh, serta menyambungkan mereka kepada syariat اَللّهُ. Sehingga mereka akan menjadi penenang jiwa pada hari ketika اَللّهُ membangkitkan seluruh makhluk !

Berekenaan dengan ini, dalam Al-Qur'an اَللّهُ menyebutkan tentang sifat² hamba-Nya yg shaleh.

"Walladziina yaquuluuna ; Robbanaa hab-lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yunin waj'alnaa lil muttaqiina imaama". (QS. Al-Furqon, 25;74)

Artinya ;
"Dan orang² yg berkata, 'Yaa Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri kami dan anak kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang² yg bertaqwa" (QS. Al-Furqon, 25;74)

Jadi mendidik anak dan isteri adalah agar mereka menjadi penenang jiwa di Hari Kiamat kelak !

آمِيـنَ يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن

("Is'af Thalibi Ridhal Al-Khalaq bi Bayani Makarim Al-Akhlaq", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Al-'Arifbillah Al-Muhaddist wal Mufassir Al-Musnid, Sayyid Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA)

~ Majlis Taklim Wa Dzikir "Al-Adzkar" ~

Selasa, 27 Januari 2015

Kewajiban Mendidik Anak

Stiap muslim haruslah mendidik isteri dan anak, serta mengarahkan seluruh perilaku mereka pada hal² yg diridhai اَللّهُ.

Seorang muslim harus menyadari bahwa isteri dan anak adalah amanah yg harus ditunaikan haknya.

Ia pun harus tau bahwa harta, isteri, dan anak akan berubah menjadi musuh dan fitnah, bila di sia²kan.

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى, "Hai orang² mukmin, sesungguhnya di antara isteri²mu dan anak²mu ada yg menjadi musuh bagimu......" (QS. Al-Taghabun, 64;14)

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى, "Dan sekali² bukanlah harta. Dan bukan (pula) anak² kamu yg mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang² yg beriman dan mengerjakan amal² shaleh..." (QS. Saba, 34;37)

Berdasarkan ayat diatas, bagi orang yg beriman dan beramal shaleh, harta mereka akan menjadikan mereka dekat dengan اَللّهُ. Sebab, mereka menafkahkannya pada jalan yg semestinya.

Begitu halnya dengan anak²nya. Dengan kehadiran anak²nya, mereka menjadi smakin dekat dengan اَللّهُ. Sebab mereka dididik sesuai dengan manhaj (metode) اَللّهُ dan setelah mereka wafat kelak, kebaikan anak²nya sampai kepada arwah mereka.

مـاشــاءاللـــــه لاقـــــوةالابااللــــــــه

("Is'af Thalibi Ridhal Al-Khalaq bi Bayani Makarim Al-Akhlaq", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Al-'Arifbillah Al-Muhaddist wal Mufassir Al-Musnid, Sayyid Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA)

~ Majlis Taklim Wa Dzikir "Al-Adzkar" ~

Hidung Menempel di Tempat Sujud

Pertanyaan ;
SAH'kah Shalat seseorang yg ketika sujud hidungnya tidak menempel ke tempat sujud ???

Jawaban ;
Sujud merupakan salah satu rukun Shalat.
Dan qta diperintahkan untuk sujud dengan bertumpu pada 7 bagian tubuh, yaitu ;

1. Dahi
2. Telapak tangan kanan
3. Telapak tangan kiri
4. Lutut kanan
5. Lutut kiri
6. Ujung jari jemari telapak kaki kanan
7. Ujung jari jemari telapak kaki kiri.

Menurut Imam Syafi'i رضي الله عنـه, hidung bukanlah salah satu dari ke-7 bagian tubuh yg qta diwajibkan untuk bertumpu padanya ketika sujud.

Oleh karena itu, shalatnya TETAP SAH, akan tetapi MAKRUH hukumnya sujud dengan hidung yg tidak menempel ke tempat sujud.

Oleh karena itu, sebaiknya ketika sujud, hidung ditempelkan ke tempat sujud agar shalatnya semakin sempurna.

Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم  bersabda, "Tempelkan hidungmu agar dapat bersujud bersamamu !" (HR. Baihaqi)

واللــــــه اعـــــلم
والعفـــــومــــــنكم

("Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab", Sayyidinal Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi رضي الله عنـه, Darul Fiqr, Juz III, hal 347)

Keutamaan Diatas Keutamaan

Dan Sahabat Ibnu Umar. رضي الله عنـه mengatakan, "Majelis Fiqih lebih baik daripada ibadah 60 Tahun !" (HR. Ath-Thabrani)

Dari Sahabat Abdullah bin Amr رضي الله عنـه, disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم suatu ketika memasuki Masjid, beliau melihat dua Majelis.

Di salah satu Majelis orang² berdo'a dan berharap kepada اَللّهُ, sedangkan di Majelis yg lain orang² mempelajari Fiqih dan mengajarkannya.

Maka Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Kedua Majelis ini berada dalam kebaikan, salah satunya lebih utama daripada yg lain. Mereka berdo'a dan berharap kepada اَللّهُ, jika dikehendaki mereka diberi dan jika tidak dikehendaki mereka ditolak.

Adapun yg lain, mereka belajar dan mengajar orang yg bodoh. Dan sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar. Mereka ini lebih utama...!"

Lalu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mendatangi mereka hingga duduk bersama mereka. (HR. Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

مـاشــاءاللـــــه لاقـــــوةالابااللــــــــه

("Al-Manhaj As-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah As-Sadah Al Ba 'Alawi", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Sayyid Zain bin Ibrahim Bin Sumaith)

~ Majlis Dzikir Wa Taklim "Al-Adzkar" ~

Perbelanjaan Yg Selamat

Orang² yg membelanjakan sesuatu untuk Agama  اَللّهُ dan membantu pejuang²-Nya, akan memperoleh ganjaran dan pahala yg besar.

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى, "Orang² yg beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan اَللّهُ dengan harta, benda dan diri mereka, adalah LEBIH TINGGI derajatnya di sisi اَللّهُ ; dan itulah orang² yg mendapat kemenangan.

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yg kekal, mereka kekal di dalamnya selama²nya. Sesungguhnya di sisi اَللّهُ -lah pahala yg besar" (QS. At-Taubah, 9;20-22)

Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Barangsiapa membelanjakan kepada seorang pejuang Fii Sabilillah, sedang ia tidak ikut berjuang bersama², maka baginya atas setiap Dirham pahala 700 Dirham. Dan barangsiapa membelanjakan atas diri sendiri Fii Sabilillah, maka baginya atas setiap dirham pahala 700 Dirham...!"

مـاشــاءاللـــــه لاقـــــوةالابااللــــــــه
صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلىَ ذَالكَ مِنَ الشّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ

("An-Nashaaih Ad-Diniyah Wal-Washaaya Al-Imaaniyah", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Al-Quthb, Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad رضي الله عنـه)

Akankah Qta Melalaikannya ?

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى, "Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yg kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu" (QS. Al-Jumu'ah,

Di antara manusia, ada yg jarang mengingat mati, dan apabila mengingatnya, ia tidak menyukainya, karena hanyut di dalam keduniaan.

Diriwayatkan oleh Nabi Ibrahim AS, bahwa beliau berkata kepada Malaikat Maut, "Dapatkah engkau menunjukkan kepadaku bentukmu ketika mencabut nyawa orang yg durjana ?"

Malaikat maut menjawab, "Engkau tidak tahan melihatnya, berpalinglah dariku !"
Maka Nabi Ibrahim berpaling darinya.
Kemudian beliau AS menoleh.

Ternyata, Malaikat Maut itu berubah menjadi seorang laki² hitam, berambut tegak, berbau busuk, dan berbaju hitam !
Dari mulut dan lubang hidungnya keluar api dan asap.

Nabi Ibrahim AS lalu jatuh pingsan !
Kemudian beliau AS sadar dan Malaikat Maut telah kembali kepada bentuknya semula.

Lalu Nabi Ibrahim AS berkata, "Hai Malaikat Maut... Andaikata menjelang wafatnya orang yg durjana hanya melihat bentuk wajahmu, niscaya itu sudah cukup baginya !"

أسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظيْم وأتوبُ إليہ
يــــــااللــــه بــــها يـــــــااللـــــه بــــــهايـــــااللــــه بحســــــــن الخـــــاتـــــــمة

("Ihya' Ulumuddin", Sayyidina Asy-Syaikh Al-Imam Hujjah Al-Islam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazaly رضي الله عنـه / Imam Ghazaly رضي الله عنـه)